Wanita
Berkursi Roda
Sebuah keterbatasan fisik bukan berarti terbatas dalam
melakukan segala hal dalam kehidupan ini. Bahkan kadang kala, orang yang
memiliki kekurangan fisik memiliki semangat hidup dan motivasi yang lebih baik
orang yang sempurna. Mengapa hal ini terjadi? Karena orang yang memiliki cacat
fisik ingin menunjukan bahwa dia bisa melakukan hal yang dilakukan oleh orang
normal. Dan mereka tidak mau dipandang sebagai orang yang menyusahkan.
Seperti halnya yang tertanam dalam diri Dee ,
seorang gadis yang sejak usia 5 tahun menjalani hidupnya di atas kursi roda.
Sebenarnya Dee terlahir seperti bayi normal lainnya, namun ketika dia berusia 5
tahun sebuah kecelakaan merenggut kaki sebelah kanannya. Sehingga membuatnya harus
terduduk di atas kursi roda selamanya.
Walaupun kondisi fisiknya tidak normal lagi, Dee tetap bersyukur karena masih diberi kehidupan oleh
Allah swt. dalam hidupnya, Dee tidak mau
merepotkan anggota keluarganya untuk memenuhi semua kebutuhannya. Dia akan
berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi semua yang dia butuhkan dengan
sendiri.
Dee dan keluarganya tinggal di sebuah daerah bernama
Jeruk, yang mana daerah itu masih dalam lingkup Kediri , Jawa Timur. Dee
memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Imran yang masih duduk di bangku 6
SD.
Riwayat pendidikan Dee
dimulai dari Tk seperti umumnya, kemudian MI karena orang tunya sangat
mengutamakan agama. Selanjutnya pasti MTS lalu MAN dan sekarang Dee menuntut
ilmu di salah satu Universitas Islam swasta di daerah Kediri untuk mendapat gelar S1. Semua lembaga
pendidikan yang dia ambil adalah lembaga pendidikan orang normal. Bukan lembaga
pendidikan khusus untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti SLB.
Tidak ada kata malu
dalam diri Dee walaupun dia satu-satunya murid
yang memiliki kekurangan fisik di sekolahnya. Luar biasa . . . . Dee tak pernah memperdulikan semua cemoohan atau celoteh
dari teman-temannya tentang dirinya. Namun, Dee
juga tidak pernah memiliki rasa dendam pada siapapun.
Kretek . . . kretek . . . kretek . . . . Suara
kursi roda yang tengah berjalan di halaman kampus dengan jari-jari mungil yang
memutarnya.
“Dee . . . mau aku bantu?” Tanya Diaz, seorang
lelaki soleh yang selalu membantu Dee .
“Oh, tidak usa
terima kasih.” Dee berusaha menolak dengan
suara lembut.
Namun, lelaki itu tidak
tega melihat Dee harus memutar roda kursi itu
sendirian. Akhirnya dia tetap membantu mendorong kursi roda untuk sampai di
tempat tujuan.
Nampaknya Diaz jatuh cinta akan kelembutan hati Dee , seseorang yang baru dia kenal beberapa tahun yang
lalu ketika pertama kali mereka masuk kampus. Kebetulan mereka berdua berada
dalam satu jurusan dan kelas. Sehingga tak menyulitkan Diaz untuk melindungi
dan menjaga Dee .
Namun disisi lain Diaz adalah salah satu laki-laki idaman
wanita di kampus. Selain soleh, dia juga tampan dan pintar, ditambah lagi anak
dari orang berdarah biru, alias orang terpandang. Pasti bagi cewek zaman
sekarang, Diaz adalah lelaki pembawa kebahagiaan dunia akhirat.
“Kamu sudah makan pagi
ini?” Tanya Diaz sesampainya mereka di dalam kelas.
“Sudah. Bisakah kamu
tinggalkan aku sendirian? Tidak enak rasanya dilihat mahasiswa yang lain.”
“Ok, aku keluar dulu
ya.”
“Iya.”
Tak lama setelah Diaz
keluar, masuklah seorang cowok yang suka menggoda Dee .
Entah dia menggoda untuk bermaksud jahat, atau menggoda karena yang lain.
“Hai Aisya cantik, apa
kabar?” Sapa cowok yang bernama Redo yang mana dia sedikit nglejing (sebutan kurang ajar dalam bahasa Jawa)
“Ada apa?” Tanya Dee sedikit takut.
“Hanya ingin menyapa my sweat heart.”
“Kalau begitu bisakah
Anda keluar!”
“Kenapa kamu megusirku,
Sayang”
“Tolong jangan panggil
aku dengan sebutan itu lagi.”
“Memangnya kenapa,
Sayang?” Kata Redo yang semakin nakal.
Karena sudah muak
dengan ulah Redo yang benar-benar membuat Dee jengkel, maka Dee
berusaha memutar kursi roda ke arah pintu untuk segera keluar dari ruangan itu.
“Eits . . . Mau kemana,
Sayang?” Redo menahan laju kursi roda Dee .
“Redo lepaskan, biarkan
aku pergi. Kenapa kamu gak habis-habisnya membuat hidupku tidak tenang.” Dee mulai emosi.
“Aku kan hanya ingin dekat denganmu.” Redo mulai
merayu.
Diaz yang melihat dari
luar ketika Redo sedang menggangu Dee segera berlari masuk dalam kelas.
“Hei . . . hentikan!”
“Hei . . .Yas. Tenang
saja, aku gak bermaksud menyakiti cewek idamanmu, aku hanya ingin mengobrol
dengan dia. Lagi pula Dee juga tidak keberatan kan ?”
“Kamu pikir wajah takut
Dee menunjukan rasa tidak keberatan? Asal kamu
tahu ya, Dee sangat terganggu setiap kamu
mendekatinya.”
“Jangan sok tahu Bro.”
“Pergi sekarang!”
“Apa hak kamu menyuruh
aku pergi, memang kamu siapa?” Redo mulai memuncak.
“Hentikan . . . Kalian
seperti anak kecil.” Dee menengahi.
“Dee ,
aku berusaha melindungimu.”
“Jangan berlebihan Diaz.
Aku bukan wanita yang lemah karena aku duduk di kursi roda. Aku bisa menjaga
diriku sendiri.” Dee mulai salah paham.
“Sekarang biarkan aku pergi, jangan ganggu aku lagi.”
Kedua cowok itu
memandang Dee yang tengah bersusah payah untuk
memindahkan kursi rodanya, tanpa ada campur tangan dari salah satu mereka.
Sampai Dee tak terlihat dari jangkauan mata mereka.
Suasana hening terasa ketika Redo meninggalkan Diaz
sendirian dalam kelas. Diaz terus memikirkan ucapan Dee, yang mana dia juga
menilai Dee salah paham.
“Dee ,
tidakkah kau melihat pancaran cinta dari mataku? Apa kamu tidak bisa menanggapi
sinyal-sinyal dariku selama ini? Ya Allah tunjukanlah bahwa aku benar-benar
mencintainya, bukan karena aku kasian akan kelemahannya. Aku mencintai Dee karenamu Ya Allah.” Diaz bergumam dalam kesendiriannya.
Yang tanpa tersadar olehnya, Dee mendengarkan
dari balik pintu kelas.
“Ya Allah, apa yang aku
dengar ini nyata. Astagfirullah . . .” Ucap Dee dengan air mata yang hampir
jatuh.
Kelas dimulai pukul 9 dan sekarang masih pukul setengan
9. Namun, suasana kelas mulai rame, satu per satu mahasiswa mulai berdatangan. Diaz
yang duduk di bangku paling belakang hanya bisa memandang Dee
dan tidak berani untuk mendekat.
Jarum detik berputar begitu cepat, merubah angka jam yang
ditunjuk. Tak terasa pula kuliah sudah usai, dan saatnya bagi Dee
untuk kembali ke rumah mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Biasana dia tak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk
memutar kursi rodanya, karena ada Diaz yang biasa mendorong kursi roda ketika
berangkat ataupun pulang. Diaz benar-benar menjaga amanah dari Dee tentang
larangan untuk mengganggunya hari itu, sehingga Diaz hanya bisa menahan rasa
tidak tega dari jauh ketika melihat Dee yang
kepayahan menggerakan kursi roda di atas jalan yang tidak terlalu bagus.
Keinginan untuk membantu Dee benar-benar tak tertahan
lagi, Diaz tidak kuat lagi melihat Dee yang
lemah pulang sendirian. Ketika sejengkal Diaz hendak menghapiri Dee, teman Dee sudah keburu mendahului Diaz.
“Dee ,
kamu masih disini? Belum ada yang jemput ya?”
“Aku biasanya naik
angkot, karena orang tuaku juga sibuk bekerja buat membiayai pendidikanku.”
“Biasanya Diaz selalu
membantu kamu untuk mendorong kursi roda, sekarang dia dimana?”
“Aku tidak tahu,
mungkin dia lagi sibuk sehingga dia pulang duluan.”
“Oh, kalau begitu
pulang bareng aku yuk.”
“Ok, terima kasih ya.”
Hati Diaz mulai lega
karena teman Dee ada yang berbaik hati untuk menyediakan tumpangan buat Dee .
Di hari selanjutnya, masih sama seperti kemarin. Diaz
masih berusaha menjaga amanah Dee untuk tidak mendekati dan mengganggu Dee . Diaz hanya bisa mengawasi Dee
dari jarak jauh.
“Wah . . . buku itu di
tempat yang tinggi banget, mana bisa aku mengambilnya.” Dee
gelisah ketika tidak bisa mengambil buku di salah satu rak di perpustakaan.
“Ini . . . (Diaz
menyerahkan buku yang Dee inginkan) aku tidak bermaksud menggangumu, aku hanya
ingin membantumu Dee .”
“Tidak Dee, aku tidak
merasa disakiti olehmu.”
Dee hanya terdiam
membisu, “Dee . . .”
“Iya.”
“Aku mau bicara sama
kamu.”
“Bicara saja.”
“Hatiku sangat tertarik
akan kelembutan, ketegaran, juga semangat perjuanganmu. Kamu tidak memiliki
rasa takut dan malu dalam hidupmu. Aku benar-benar kagum, kamu mengertikan
maksudku?”
“Apa itu artinya kamu
suka sama aku?”
“Bisa dibilang seperti
itu.”
“Emb . . . Mungkin kamu sudah tau kan kepribadianku, dan aku tidak akan
menjawab hal itu sekarang.”
“Iya aku tahu, dan aku
tidak akan memaksa kamu untuk memberikan jawaban itu sekarang. Aku akan
membuktikan kesungguhanku nanti.” Diaz memandang Dee
dengan penuh kesungguhan.
“Astagfirullah . . .
aku rasa cukup bicaranya ya, sampai jumpa.”
Percakapan itu adalah
percakapan awal dibentuknya hubungan Dee
dengan Diaz yang semakin membaik.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti
hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Diaz
dan Dee hampir menyelesaikan gelar S1-nya. Dan
disisi lain pun, orang tua Diaz meminta Diaz untuk segera menikah terlebih
dahulu sebelum melanjutkan pendidikan ke S2. Bahkan orang tua Diaz juga telah
menyiapkan jodoh untuk Diaz.
“Diaz, sini dulu Nak.
Ada Yunita nih.” Perintah ibunda Diaz.
“Iya Bu.” Jawab Diaz
yang selalu tidak mau mengecewakan sang ibu.
Diaz seketika terkejut ketika mendengar penjelasan sang
ibu tentang perjodohan itu. Karena Diaz juga tidak mau mempertaruhkan
kebahagiaannya, maka Diaz berusaha memberitahu tentang wanita yang dia cintai
pada sang ibu.
“Maaf Yun, maaf Bu,
bukannya saya berniat untuk menyakiti kalian, tapi saya sudah memiliki pilihan
sendiri untuk menjadi pendamping hidup saya.”
“Siapa?” Tanya sang ibu
bingung.
“Namanya Dee, dia
orangnya solehah, juga baik hati. Tapi dia bukan berasal dari anak orang kaya
dan dia punya suatu kekurangan yaitu kaki sebelah kanannya putus, sehingga dia
harus menghabiskan waktu di atas kursi roda.”
“Apa?” Sang ibu shock mendengarnya.
“Apa. Maaf tante saya
tidak bisa bersanding dengan laki-laki yang memiliki selera rendahan seperti
anak tante. Permisi.” Yunita yang kecewa langdung pergi, dan yang pasti Yunita
tidak akan berniat kembali lagi.
“Kamu mengecewakan
Mam.”
“Bu, maafkan Diaz. Diaz
yakin, ibu pasti akan terpesona melihat kebaikan hati Dee .
Dee layaknya bidadari dari surga yang bisa
meluluhakan hati Diaz. Dan Yunita, tidak ada apa-apanya dibandingkan Dee .”
“Alah, kamu pasti
sedang dibutakan oleh cinta. Sehingga kamu berusaha memberi kesan bagus untuk
wanita cacat itu.” Respon sang ibunda yang terlanjur kecewa.
Bagai ditusuk malaikat
rasa hati Diaz mendengar pernyataan sang ibunda. Diaz berdoa agar pintu hati
sang ibu dibukakan oleh Allah.
“Bu, bolehkah saya
mengajak Dee datang ke rumah, agar ibu bisa
bertemu dengannya.” Pinta Diaz untuk yang kesekian kalinya.
“Tidak. Sekalipun,
tidak akan pernah aku izinkan dia ke
sini.” Jawab sang ibu judes.
Diaz mengalah dan menyerah menghadapi sang ibu yang
bersikeras pada pendiriannya, untuk tidak menerima Dee .
“Dee ,
maafkan aku jika aku mungkin tidak bisa menepati janjiku seperti yang pernah
aku utarakan dulu ketika aku menyatakan cinta. Bukannya aku tidak serius
mencintaimu tapi ini karena faktor orang tua yang tidak mendukungku.”
“Iya aku tahu. Walaupun
kita tidak pacaran, tapi aku selalu percaya akan kesungguhanmu itu, dan masalah
ini bukanlah menjadi masalah buatku. Jika kamu ditakdirkan untuk menjadi
milikku, pasti Allah akan mempertemukan kita kembali.” Jawab Dee dengan lapang.
Keajaiban memanglah suatu yang mungkin jika Allah
menghendaki, ini berarti tak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk terjadi. Diaz
pun menyerah dan pasrah, sehingga dia harus menerima dengan lapang permintaan
dari ibundanya.
“Bu, sebentar lagi Diaz
wisuda, dan Diaz akan memenuhi semua permintaan ibu dari pada Diaz harus
mendapat amarah dari ibu setiap hari.” Diaz pasrah.
“Kalau kamu nikahnya
sama wanita cacat itu, ibu juga tiak merestui Yaz.”
“Tidak Bu, Diaz menurut
apa kata pilihan Ibu.”
“Terlambat Yaz, pilihan
ibu terlanjur lepas.”
Diaz hanya terdiam saat
percakapan serius di ruang tengah kala itu.
“Yaz antarkan ibu ke
pasar ya sekarang, ibu mau beli sesuatu.”
“Baik, Bu.”
Keramaian pasar sangat membuat cemas hati Diaz jika
membiarkan ibunya sendirian berbelanja.
“Bu, mau Diaz temani?”
“Tidak perlu. Ibu hanya
sebentar, kamu di sini saja.”
“Baik Bu, hati-hati.”
Sekembalinya sang ibu dari dalam pasar, tiba-tiba ada
sepasang mata yang mengincar tas mewah yang dibawa ibu Diaz, yang mana tak lain
adalah seorang perampok. Ketika perhatian dari ibunda Diaz lengah, maka
kesempatan bagi copet itu untuk beraksi.
“Rampok . . .” Teriak ibunda Diaz setelah mengetahui
tas-nya dibawa kabur oleh copet itu.
Segera semua orang di sekitar tak terkecuali Diaz
ikut mengejar copet yang berlari secepat kilat itu.
Bruakkkkkk
. . .
“Dee .” Diaz
terkejut ketika melihat Dee tergeletak tertindih kursi roda lalu segera ia
menolong Dee yang terlihat sangat shock dari raut mukanya. Sedangkan yang
lain menghakimi copet itu.
Tak
lama kemudian, ibunda Diaz menyusul ke tempat kejadian. Sempat terbengong juga
ketika melihat anaknya tengah bersama wanita berkursi roda.
“Diaz.”
“Ibu.”
“Siapa itu?”
“Ini Dee Bu, yang pernah Diaz ceritakan.”
“Kenapa dia bisa ada di sini?”
“Dee telah membantu
menyelamatkan tas ibu. Dia menghadang pencopet tadi Bu.”
“Apa itu benar Nak?” Tanya Ibu Diaz pada Dee .
“I . . . Iya Bu. Maaf Bu, jika saya lancang, saya
tidak bermaksud untuk menarik simpati ibu atau apapun, saya juga tidak tahu
bahwa korban pencopetan adalah ibu. Saya hanya berusaha membantu sebisa saya
Bu.”
“Tidak Nak. Justru ibu sangat berterima kasih. Dan
sekarang ibu benar-benar percaya bahwa kamu memang anak yang baik layaknya
bidadari. Tanpa kamu, semua uang ibu lenyap, Dee .”
“Tidak Bu, tidak. Saya hanya wanita biasa yang tak
lain hanya memiliki kaki satu. Saya mohon jangan berlebihan Bu, saya juga
sering melakukan dosa layaknya manusia lain.”
“Tidak Dee, ibu jujur.”
“Jadi. . .?” Tanya Diaz penasaran.
“Ya . . . Ibu
merestuimu, Mam.”
“Alhamdulillah.” Diaz tersimpuh bahagia.
Bukan
gara-gara pencopetan. Bukan juga gara-gara guna-guna atau yang lain. Ini semua
karena Allah semata yang membuat semua indah pada waktunya. Hanya Allah yang
bisa membuat hati ibunda Diaz menjadi luluh. Sehingga, keinginan Diaz untuk
mempersunting Dee seusai wisuda bisa terkabul.
Hari
terindah bagi Diaz dan Dee telah tiba. Hari
itu adalah hari yang paling bersejarah dalam sekali seumur hidup mereka. Hari
itu adalah hari pernikahan.
Dalam
adat orang Jawa, setelah acara ijab qabul (akad nikah) pasti ada acara yang
disebut temu manten. Acara ini
dimulai dengan iringan lagu Ya Nabi Salam
dengan kedua mempelai saling berjalan pelan dari arah berlawanan untuk
dipertemukan dalam satu titik. Ditambah 2 orang domas disamping masing-masing mempelai dengan kembar mayang yang dibawa oleh setiap domas.
Karena
keadaan Dee yang tidak sama dengan wanita yang lain, sehingga dibutuhkan
seseorang untuk mendorong kursi roda Dee
hingga sampailah pada satu titik pertemuan dengan Diaz. Dee merasa merinding
ketika matanya tertuju pada mata suaminya dengan alunan syair pujian untuk Nabi
Muhammad berbunyi, seakan Dee tidak percaya
bahwa ini nyata.
“Dee , aku
mencintaimu karena Allah.” Bisik Diaz ketika mereka berdua berhasil bertemu di
salah satu titik pertemuan pengantin. Seketika air mata Dee
tak terbendung melewati acara ini.
Dan kemudian Diazlah
yang mendorong kursi roda Dee untuk berjalan
bersama menuju singgasana alias pelaminan yang sudah disiapkan untuk mengikuti
acara selanjutnya.
Inilah
cinta sejati yang sebenarnya, mencintai seseorang karena Allah. Bukan karena
harta ataupun tahta. Dan Insya Allah, Allah swt. akan mempertemukannya lagi di
surga-Nya.
- Domas
: seorang pengiring yang mengiring jalannya pengantin ketika acara temu manten dalam adat Jawa. Untuk
pengantin laki-laki, 2 domas
laki-laki yang masih jaka. Sedangkan untuk pengantin wanita juga 2 domas wanita yang masih gadis.
Sebagian dari orang Jawa percaya apabila anak gadis dan anak jakanya
seusai menjadi domas, maka tak
lama kemudian akan menyuusul ke pelaminan.
- Kembar
Mayang : rangakaian bunga, janur (daun kelapa muda, yang biasa dibuat
ketupat) dengan dibentuk-bentuk untuk dibawa domas ketika mengiringi
jalannya pengantin ketika temu
manten. Biasanya seusai acara temu
manten penonton atau kerabat dari pengantin berebut untuk mendapat serpihan
kembar mayang tersebut.
ABOUTME
Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..


0 komentar:
Posting Komentar