HIBURAN

Selamat datang di Blog Hiburan, tersedia beberapa cerpen bertema dunia remaja yang akan memberikan sedikit refresing. Happy Reading.
Join us on



Wanita Berkursi Roda
           
            Sebuah keterbatasan fisik bukan berarti terbatas dalam melakukan segala hal dalam kehidupan ini. Bahkan kadang kala, orang yang memiliki kekurangan fisik memiliki semangat hidup dan motivasi yang lebih baik orang yang sempurna. Mengapa hal ini terjadi? Karena orang yang memiliki cacat fisik ingin menunjukan bahwa dia bisa melakukan hal yang dilakukan oleh orang normal. Dan mereka tidak mau dipandang sebagai orang yang menyusahkan.
            Seperti halnya yang tertanam dalam diri Dee, seorang gadis yang sejak usia 5 tahun menjalani hidupnya di atas kursi roda. Sebenarnya Dee terlahir seperti bayi normal lainnya, namun ketika dia berusia 5 tahun sebuah kecelakaan merenggut kaki sebelah kanannya. Sehingga membuatnya harus terduduk di atas kursi roda selamanya.
            Walaupun kondisi fisiknya tidak normal lagi, Dee tetap bersyukur karena masih diberi kehidupan oleh Allah swt. dalam hidupnya, Dee tidak mau merepotkan anggota keluarganya untuk memenuhi semua kebutuhannya. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi semua yang dia butuhkan dengan sendiri.
            Dee terlahir di kalangan keluarga yang kuat imannya, dermawan, rendah hati, baik dan penyabar. Tak mengherankan jika Dee memiliki hati yang mulia. Orang tuanya bukan berasal dari kalangan bangsawan atau konglomerat, mereka keluarga sederhana yang selalu menikmati dan mensyukuri nikmat Allah.
            Dee dan keluarganya tinggal di sebuah daerah bernama Jeruk, yang mana daerah itu masih dalam lingkup Kediri, Jawa Timur. Dee memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Imran yang masih duduk di bangku 6 SD.
            Riwayat pendidikan Dee dimulai dari Tk seperti umumnya, kemudian MI karena orang tunya sangat mengutamakan agama. Selanjutnya pasti MTS lalu MAN dan sekarang Dee menuntut ilmu di salah satu Universitas Islam swasta di daerah Kediri untuk mendapat gelar S1. Semua lembaga pendidikan yang dia ambil adalah lembaga pendidikan orang normal. Bukan lembaga pendidikan khusus untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti SLB.
Tidak ada kata malu dalam diri Dee walaupun dia satu-satunya murid yang memiliki kekurangan fisik di sekolahnya. Luar biasa . . . . Dee tak pernah memperdulikan semua cemoohan atau celoteh dari teman-temannya tentang dirinya. Namun, Dee juga tidak pernah memiliki rasa dendam pada siapapun.
Kretek . . . kretek  . . . kretek . . . . Suara kursi roda yang tengah berjalan di halaman kampus dengan jari-jari mungil yang memutarnya.
Dee  . . . mau aku bantu?” Tanya Diaz, seorang lelaki soleh yang selalu membantu Dee.
Oh, tidak usa terima kasih.” Dee berusaha menolak dengan suara lembut.
Namun, lelaki itu tidak tega melihat Dee harus memutar roda kursi itu sendirian. Akhirnya dia tetap membantu mendorong kursi roda untuk sampai di tempat tujuan.
            Nampaknya Diaz jatuh cinta akan kelembutan hati Dee, seseorang yang baru dia kenal beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali mereka masuk kampus. Kebetulan mereka berdua berada dalam satu jurusan dan kelas. Sehingga tak menyulitkan Diaz untuk melindungi dan menjaga Dee.
            Namun disisi lain Diaz adalah salah satu laki-laki idaman wanita di kampus. Selain soleh, dia juga tampan dan pintar, ditambah lagi anak dari orang berdarah biru, alias orang terpandang. Pasti bagi cewek zaman sekarang, Diaz adalah lelaki pembawa kebahagiaan dunia akhirat.
“Kamu sudah makan pagi ini?” Tanya Diaz sesampainya mereka di dalam kelas.
“Sudah. Bisakah kamu tinggalkan aku sendirian? Tidak enak rasanya dilihat mahasiswa yang lain.”
“Ok, aku keluar dulu ya.”
“Iya.”
Tak lama setelah Diaz keluar, masuklah seorang cowok yang suka menggoda Dee. Entah dia menggoda untuk bermaksud jahat, atau menggoda karena yang lain.
“Hai Aisya cantik, apa kabar?” Sapa cowok yang bernama Redo yang mana dia sedikit nglejing (sebutan kurang ajar dalam bahasa  Jawa)
Ada apa?” Tanya Dee sedikit takut.
“Hanya ingin menyapa my sweat heart.”
“Kalau begitu bisakah Anda keluar!”
“Kenapa kamu megusirku, Sayang”
“Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”
“Memangnya kenapa, Sayang?” Kata Redo yang semakin nakal.
Karena sudah muak dengan ulah Redo yang benar-benar membuat Dee jengkel, maka Dee berusaha memutar kursi roda ke arah pintu untuk segera keluar dari ruangan itu.
Eits  . . . Mau kemana, Sayang?” Redo menahan laju kursi roda Dee.
“Redo lepaskan, biarkan aku pergi. Kenapa kamu gak habis-habisnya membuat hidupku tidak tenang.” Dee mulai emosi.
“Aku kan hanya ingin dekat denganmu.” Redo mulai merayu.
Diaz yang melihat dari luar ketika  Redo sedang menggangu Dee segera berlari masuk dalam kelas.
“Hei . . . hentikan!”
“Hei . . .Yas. Tenang saja, aku gak bermaksud menyakiti cewek idamanmu, aku hanya ingin mengobrol dengan dia. Lagi pula Dee juga tidak keberatan kan?”
“Kamu pikir wajah takut Dee menunjukan rasa tidak keberatan? Asal kamu tahu ya, Dee sangat terganggu setiap kamu mendekatinya.”
“Jangan sok tahu Bro.”
“Pergi sekarang!”
“Apa hak kamu menyuruh aku pergi, memang kamu siapa?” Redo mulai memuncak.
“Hentikan . . . Kalian seperti anak kecil.” Dee menengahi.
Dee, aku berusaha melindungimu.”
“Jangan berlebihan Diaz. Aku bukan wanita yang lemah karena aku duduk di kursi roda. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Dee mulai salah paham. “Sekarang biarkan aku pergi, jangan ganggu aku lagi.”
Kedua cowok itu memandang Dee yang tengah bersusah payah untuk memindahkan kursi rodanya, tanpa ada campur tangan dari salah satu mereka. Sampai Dee tak terlihat dari jangkauan mata mereka.
            Suasana hening terasa ketika Redo meninggalkan Diaz sendirian dalam kelas. Diaz terus memikirkan ucapan Dee, yang mana dia juga menilai Dee salah paham.
Dee, tidakkah kau melihat pancaran cinta dari mataku? Apa kamu tidak bisa menanggapi sinyal-sinyal dariku selama ini? Ya Allah tunjukanlah bahwa aku benar-benar mencintainya, bukan karena aku kasian akan kelemahannya. Aku mencintai Dee karenamu Ya Allah.” Diaz bergumam dalam kesendiriannya. Yang tanpa tersadar olehnya, Dee mendengarkan dari balik pintu kelas.
“Ya Allah, apa yang aku dengar ini nyata. Astagfirullah . . .” Ucap Dee dengan air mata yang hampir jatuh.
            Kelas dimulai pukul 9 dan sekarang masih pukul setengan 9. Namun, suasana kelas mulai rame, satu per satu mahasiswa mulai berdatangan. Diaz yang duduk di bangku paling belakang hanya bisa memandang Dee dan tidak berani untuk mendekat.
            Dee sebenarnya juga merasa bersalah, dia merasa ucapannya pagi tadi telah menyakiti hati Diaz. Sesekali Dee berusaha melirik ke arah tempat dimana Diaz duduk.
            Jarum detik berputar begitu cepat, merubah angka jam yang ditunjuk. Tak terasa pula kuliah sudah usai, dan saatnya bagi Dee untuk kembali ke rumah mengerjakan tugas-tugas kuliah.
            Biasana dia tak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk memutar kursi rodanya, karena ada Diaz yang biasa mendorong kursi roda ketika berangkat ataupun pulang. Diaz benar-benar menjaga amanah dari Dee tentang larangan untuk mengganggunya hari itu, sehingga Diaz hanya bisa menahan rasa tidak tega dari jauh ketika melihat Dee yang kepayahan menggerakan kursi roda di atas jalan yang tidak terlalu bagus.
            Keinginan untuk membantu Dee benar-benar tak tertahan lagi, Diaz tidak kuat lagi melihat Dee yang lemah pulang sendirian. Ketika sejengkal Diaz hendak menghapiri Dee, teman Dee sudah keburu mendahului Diaz.
Dee, kamu masih disini? Belum ada yang jemput ya?”
“Aku biasanya naik angkot, karena orang tuaku juga sibuk bekerja buat membiayai pendidikanku.”
“Biasanya Diaz selalu membantu kamu untuk mendorong kursi roda, sekarang dia dimana?”
“Aku tidak tahu, mungkin dia lagi sibuk sehingga dia pulang duluan.”
“Oh, kalau begitu pulang bareng aku yuk.”
“Ok, terima kasih ya.”
Hati Diaz mulai lega karena teman Dee ada yang berbaik hati untuk menyediakan tumpangan buat Dee.
            Di hari selanjutnya, masih sama seperti kemarin. Diaz masih berusaha menjaga amanah Dee untuk tidak mendekati dan mengganggu Dee. Diaz hanya bisa mengawasi Dee dari jarak jauh.
“Wah . . . buku itu di tempat yang tinggi banget, mana bisa aku mengambilnya.” Dee gelisah ketika tidak bisa mengambil buku di salah satu rak di perpustakaan.
“Ini . . . (Diaz menyerahkan buku yang Dee inginkan) aku tidak bermaksud menggangumu, aku hanya ingin membantumu Dee.”
Dee tersipu malu, “Terima kasih Yas. Aku minta maaf atas perilaku dan perkataanmu kemarin yang membuat kamu sakit hati.”
“Tidak Dee, aku tidak merasa disakiti olehmu.”
Dee hanya terdiam membisu, “Dee . . .”
“Iya.”
“Aku mau bicara sama kamu.”
“Bicara saja.”
“Hatiku sangat tertarik akan kelembutan, ketegaran, juga semangat perjuanganmu. Kamu tidak memiliki rasa takut dan malu dalam hidupmu. Aku benar-benar kagum, kamu mengertikan maksudku?”
“Apa itu artinya kamu suka sama aku?”
“Bisa dibilang seperti itu.”
Emb . . . Mungkin kamu sudah tau kan kepribadianku, dan aku tidak akan menjawab hal itu sekarang.”
“Iya aku tahu, dan aku tidak akan memaksa kamu untuk memberikan jawaban itu sekarang. Aku akan membuktikan kesungguhanku nanti.” Diaz memandang Dee dengan penuh kesungguhan.
“Astagfirullah . . . aku rasa cukup bicaranya ya, sampai jumpa.”
Percakapan itu adalah percakapan awal dibentuknya hubungan Dee dengan Diaz yang semakin membaik.
            Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Diaz dan Dee hampir menyelesaikan gelar S1-nya. Dan disisi lain pun, orang tua Diaz meminta Diaz untuk segera menikah terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan ke S2. Bahkan orang tua Diaz juga telah menyiapkan jodoh untuk Diaz.
“Diaz, sini dulu Nak. Ada Yunita nih.” Perintah ibunda Diaz.
“Iya Bu.” Jawab Diaz yang selalu tidak mau mengecewakan sang ibu.
            Diaz seketika terkejut ketika mendengar penjelasan sang ibu tentang perjodohan itu. Karena Diaz juga tidak mau mempertaruhkan kebahagiaannya, maka Diaz berusaha memberitahu tentang wanita yang dia cintai pada sang ibu.
“Maaf Yun, maaf Bu, bukannya saya berniat untuk menyakiti kalian, tapi saya sudah memiliki pilihan sendiri untuk menjadi pendamping hidup saya.”
“Siapa?” Tanya sang ibu bingung.
“Namanya Dee, dia orangnya solehah, juga baik hati. Tapi dia bukan berasal dari anak orang kaya dan dia punya suatu kekurangan yaitu kaki sebelah kanannya putus, sehingga dia harus menghabiskan waktu di atas kursi roda.”
“Apa?” Sang ibu shock mendengarnya.
“Apa. Maaf tante saya tidak bisa bersanding dengan laki-laki yang memiliki selera rendahan seperti anak tante. Permisi.” Yunita yang kecewa langdung pergi, dan yang pasti Yunita tidak akan berniat kembali lagi.
“Kamu mengecewakan Mam.”
“Bu, maafkan Diaz. Diaz yakin, ibu pasti akan terpesona melihat kebaikan hati Dee. Dee layaknya bidadari dari surga yang bisa meluluhakan hati Diaz. Dan Yunita, tidak ada apa-apanya dibandingkan Dee.”
“Alah, kamu pasti sedang dibutakan oleh cinta. Sehingga kamu berusaha memberi kesan bagus untuk wanita cacat itu.” Respon sang ibunda yang terlanjur kecewa.
Bagai ditusuk malaikat rasa hati Diaz mendengar pernyataan sang ibunda. Diaz berdoa agar pintu hati sang ibu dibukakan oleh Allah.
“Bu, bolehkah saya mengajak Dee datang ke rumah, agar ibu bisa bertemu dengannya.” Pinta Diaz untuk yang kesekian kalinya.
“Tidak. Sekalipun, tidak akan pernah  aku izinkan dia ke sini.” Jawab sang ibu judes.
            Diaz mengalah dan menyerah menghadapi sang ibu yang bersikeras pada pendiriannya, untuk tidak menerima Dee.
Dee, maafkan aku jika aku mungkin tidak bisa menepati janjiku seperti yang pernah aku utarakan dulu ketika aku menyatakan cinta. Bukannya aku tidak serius mencintaimu tapi ini karena faktor orang tua yang tidak mendukungku.”
“Iya aku tahu. Walaupun kita tidak pacaran, tapi aku selalu percaya akan kesungguhanmu itu, dan masalah ini bukanlah menjadi masalah buatku. Jika kamu ditakdirkan untuk menjadi milikku, pasti Allah akan mempertemukan kita kembali.” Jawab Dee dengan lapang.
            Keajaiban memanglah suatu yang mungkin jika Allah menghendaki, ini berarti tak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk terjadi. Diaz pun menyerah dan pasrah, sehingga dia harus menerima dengan lapang permintaan dari ibundanya.
“Bu, sebentar lagi Diaz wisuda, dan Diaz akan memenuhi semua permintaan ibu dari pada Diaz harus mendapat amarah dari ibu setiap hari.” Diaz pasrah.
“Kalau kamu nikahnya sama wanita cacat itu, ibu juga tiak merestui Yaz.”
“Tidak Bu, Diaz menurut apa kata pilihan Ibu.”
“Terlambat Yaz, pilihan ibu terlanjur lepas.”
Diaz hanya terdiam saat percakapan serius di ruang tengah kala itu.
“Yaz antarkan ibu ke pasar ya sekarang, ibu mau beli sesuatu.”
“Baik, Bu.”
            Keramaian pasar sangat membuat cemas hati Diaz jika membiarkan ibunya sendirian berbelanja.
“Bu, mau Diaz temani?”
“Tidak perlu. Ibu hanya sebentar, kamu di sini saja.”
“Baik Bu, hati-hati.”
            Sekembalinya sang ibu dari dalam pasar, tiba-tiba ada sepasang mata yang mengincar tas mewah yang dibawa ibu Diaz, yang mana tak lain adalah seorang perampok. Ketika perhatian dari ibunda Diaz lengah, maka kesempatan bagi copet itu untuk beraksi.
“Rampok . . .” Teriak ibunda Diaz setelah mengetahui tas-nya dibawa kabur oleh copet itu.
Segera semua orang di sekitar tak terkecuali Diaz ikut mengejar copet yang berlari secepat kilat itu.
            Dee yang kebetulan berada di depan sebuah toko, heran ketika mendapati seorang dari arah timur berlari ke arahnya dengan terbirit-birit membawa sebuah tas mewah. Dee pun  menangkap sinyal bahwa orang itu dalah copet, sehingga dia berinisiatif untuk menghadang copet itu, ketika copet itu hendak masuk ke gang. Sebelumnya Dee sudah menafsirkan bahwa si copet akan masuk ke dalam gang untuk bersembunyi. Dee sudah bersiap dengan rencananya.
Bruakkkkkk . . .
Dee.” Diaz terkejut ketika melihat Dee tergeletak tertindih kursi roda lalu segera ia menolong Dee yang terlihat sangat shock dari raut mukanya. Sedangkan yang lain menghakimi copet itu.
            Tak lama kemudian, ibunda Diaz menyusul ke tempat kejadian. Sempat terbengong juga ketika melihat anaknya tengah bersama wanita berkursi roda.
“Diaz.”
“Ibu.”
“Siapa itu?”
“Ini Dee Bu, yang pernah Diaz ceritakan.”
“Kenapa dia bisa ada di sini?”
Dee telah membantu menyelamatkan tas ibu. Dia menghadang pencopet tadi Bu.”
“Apa itu benar Nak?” Tanya Ibu Diaz pada Dee.
“I . . . Iya Bu. Maaf Bu, jika saya lancang, saya tidak bermaksud untuk menarik simpati ibu atau apapun, saya juga tidak tahu bahwa korban pencopetan adalah ibu. Saya hanya berusaha membantu sebisa saya Bu.”
“Tidak Nak. Justru ibu sangat berterima kasih. Dan sekarang ibu benar-benar percaya bahwa kamu memang anak yang baik layaknya bidadari. Tanpa kamu, semua uang ibu lenyap, Dee.”
“Tidak Bu, tidak. Saya hanya wanita biasa yang tak lain hanya memiliki kaki satu. Saya mohon jangan berlebihan Bu, saya juga sering melakukan dosa layaknya manusia lain.”
“Tidak Dee, ibu jujur.”
“Jadi. . .?” Tanya Diaz penasaran.
“Ya . . .  Ibu merestuimu, Mam.”
“Alhamdulillah.” Diaz tersimpuh bahagia.
            Bukan gara-gara pencopetan. Bukan juga gara-gara guna-guna atau yang lain. Ini semua karena Allah semata yang membuat semua indah pada waktunya. Hanya Allah yang bisa membuat hati ibunda Diaz menjadi luluh. Sehingga, keinginan Diaz untuk mempersunting Dee seusai wisuda bisa terkabul.
            Hari terindah bagi Diaz dan Dee telah tiba. Hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam sekali seumur hidup mereka. Hari itu adalah hari pernikahan.
            Dalam adat orang Jawa, setelah acara ijab qabul (akad nikah) pasti ada acara yang disebut temu manten. Acara ini dimulai dengan iringan lagu Ya Nabi Salam dengan kedua mempelai saling berjalan pelan dari arah berlawanan untuk dipertemukan dalam satu titik. Ditambah 2 orang domas disamping masing-masing mempelai dengan kembar mayang yang dibawa oleh setiap domas.
            Karena keadaan Dee yang tidak sama dengan wanita yang lain, sehingga dibutuhkan seseorang untuk mendorong kursi roda Dee hingga sampailah pada satu titik pertemuan dengan Diaz. Dee merasa merinding ketika matanya tertuju pada mata suaminya dengan alunan syair pujian untuk Nabi Muhammad berbunyi, seakan Dee tidak percaya bahwa ini nyata.
Dee, aku mencintaimu karena Allah.” Bisik Diaz ketika mereka berdua berhasil bertemu di salah satu titik pertemuan pengantin. Seketika air mata Dee tak terbendung melewati acara ini.
Dan  kemudian Diazlah yang mendorong kursi roda Dee untuk berjalan bersama menuju singgasana alias pelaminan yang sudah disiapkan untuk mengikuti acara selanjutnya.
            Inilah cinta sejati yang sebenarnya, mencintai seseorang karena Allah. Bukan karena harta ataupun tahta. Dan Insya Allah, Allah swt. akan mempertemukannya lagi di surga-Nya.
  • Domas : seorang pengiring yang mengiring jalannya pengantin ketika acara temu manten dalam adat Jawa. Untuk pengantin laki-laki, 2 domas laki-laki yang masih jaka. Sedangkan untuk pengantin wanita juga 2 domas wanita yang masih gadis. Sebagian dari orang Jawa percaya apabila anak gadis dan anak jakanya seusai menjadi domas, maka tak lama kemudian akan menyuusul ke pelaminan.
  • Kembar Mayang : rangakaian bunga, janur (daun kelapa muda, yang biasa dibuat ketupat) dengan dibentuk-bentuk untuk dibawa domas ketika mengiringi jalannya pengantin ketika temu manten. Biasanya seusai acara temu manten penonton atau kerabat dari pengantin berebut untuk mendapat serpihan kembar mayang tersebut.




Share this:

ABOUTME

Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar