Ternyata
Bukan Kamu, tapi Dia
“Cinta . . . ini tak kan pernah bisa terhapuskan, selama kau masih menemani
hatiku, masih kurasakan setia dihatiku dan tak kan ternoda untuk selamanya. Kan ku jaga . . . rasa cinta . . . yang kini telah hadir
di hidupku . . . selamanya tak kan sirna
meskipun waktu kan
memanggilku.”
Suara merdu menggema di beranda rumah Sania ditemani
purnama yang tersenyum manis menebar cahayanya disamping bintang-bintang yang
bertebaran di langit. Lagu yang didendangkannya sangatlah cocok untuk dirinya
yang telah menjalin hubungan dengan Bayu (pacarnya), selama 2 tahun ini.
Keduanya adalah sepasang insan yang sama-sama memiliki
kesetiaan. Namun, sedikit memiliki perbedaan diantara keduannya. Di sekolah,
Sania menjadi primadona yang sering mengantongi berbagai prestasi. Sedang Si
Bayu hanya seorang siswa yang pasif dengan nilai yang cukup. Sungguh cinta yang
menyatukan mereka hingga tak memandang semua perbedaan tersebut.
Pukul 6 pagi motor besar yang keren tak terkecuali
pemiliknya yang gagah berhenti di depan rumah Sania. Ya. Orang itu adalah Bayu.
Tidak dipungkiri lagi jika Sania memiliki pacar sekeren Bayu karena Sania
sendiri juga cantik lagi manis. Seperti biasa, semenjak mereka berpacaran,
Sania mendapat tumpangan gratis ke sekolah setiap hari.
Banyak pasang mata yang selalu menyorotkan pandangan ke
arah Sania selagi ia turun dari motor Bayu. Banyak yang menilai pasangan ini
adalah pasangan yang sangat romantis, akur, dan saling menjaga kesetiaan
walaupun berbeda sekolah. Banyak pula yang iri terhadap Sania.
“Sampai jumpa Sayang.
Jangan nakal ya di sekolah.” Kata Bayu sambil mencubit hidung Sania yang
lumayan mancung.
“Iya Sayang.”
Sania masih berdiri di
tempatnya, ketika Bayu memacu motor besarnya hingga menghilang di pertigaan dekat
sekolah Sania.
Sebenarnya dibalik keromantisan yang selama ini terlihat
di depan umum, terkadang ada juga masalah yang dihadapi oleh keduanya. Tak ada
hubungan yang selalu berjalan mulus dan terus bahagia. Pasti ada saja gelombang
yang selalu menguji kekuatan cinta setiap pasangan, sebagai bukti seberapa
besar cinta dan pengorbanan yang telah diberikan.
Sudah 2 minggu terakhir, masalalu Sania datang kembali.
Mantan Sania yang dulu pernah menyakiti Sania kini hadir kembali. Memohon pada
Sania membuka kesempatan kedua. Meminta pada Sania untuk mengulang kisah yang
dulu pernah ternodai. Sania yang terlanjur jatuh hati pada Bayu, tak mungkin
lagi memenuhi semua permintaan Arfan (mantannya). Sekalipun Arfan bersujud pada
Sania.
Cinta Arfan pada Sania datang terlambat, yang kini
membuat Arfan harus menelan api cemburu ketika mengetahui Sania menjadi milik
orang lain. Arfan menyesal mengapa dulu ia menyia-nyiakan Sania. Mencampakan Sania
lalu menyakiti hati Sania yang masih tulus. Kini ketika Sania pergi dari hidupnya
barulah ia mengetahui makna kehilangan.
Dari depan kelas XII IPA 3 Arfan memandang jauh ke arah
gerbang. Menatap setiap gerak gemulai dari gadis manis pujaannya. Ya. Gadis itu
tak lain adalah Sania. Gadis yang baru turun dari motor keren bersama pacar
yang selalu setia disampingnya. Sania sama sekali tidak menyadari bahwa Arfan
sedang memandanginya.
Entah seberapa besar api dalam hati Arfan menyala, hingga
membuat telinganya memerah di pagi hari yang sejuk ini.
“Woi Bro,
ngliatin siapa?” Gertak Ferdi sahabat Arfan.
“Gak apa-apa.”
“Telingamu merah
banget, terus kenapa tanganmu menggenggam?” Ledek Ferdi sekali lagi.
“Berisik loe.”
Saking marahnya, Arfan
tak mau ada seorang pun yang mencampuri urusan pribadinya sekalipun itu
sahabatnya sendiri.
Suara lebah yang berdengung tampak jelas berasal dari
kamar Sania. Itu menandakan bahwa Sania sedang serius belajar, karena berhubung
Ujian Nasional sudah di depan mata. Tak ada seorang pun yang berani mengganggu
Sania sekalipun itu orang tua Sania, kecuali ada hal yang benar-benar penting.
Dari gerbang rumah Sania yang tengah terbuka lebar, tanpa
disangka seorang dengan motor matic-nya langsung berbelok masuk ke
halaman. Membuat ibu Sania yang sedang membaca majalah melongo sebentar.
“Selamat Sore Tante.”
Sapa pemuda yang perlahan berjalan menghampiri sambil menjinjing helm.
“Sore. Mencari siapa?”
“Sania ada Tante?”
“Ada . Tapi dia lagi belajar.”
“Kebetulan Tante. Saya
mau belajar sama Sania.”
“Oh begitu ya. Sebentar
saya panggilkan dulu.”
Sambil melepaskan lelahnya,
Arfan (pemuda yang datang tadi) menyandarkan tubuhnya di kursi kayu di beranda
rumah Sania. Tak sampai menunggu lama, Sania keluar dengan tiba-tiba,
mengagetkan Arfan.
“Arfan.” “Sania.”
“Ada apa kamu kemari?”
“Aku mau belajar sama
kamu boleh?” “Oh tentu.”
“Ok. Bisa dimulai
sekarang.”
“Emmm aku
buatkan minum dulu ya.”
“Oh. Gak usa . Mending
kita mulai dulu belajarnya.” “Baiklah.”
Damai rasa hati Arfan bisa memandang Sania sedekat itu.
Rencana untuk belajar bersama Sania telah dirancang Arfan jauh-jauh hari. Arfan
mendapat dua keuntungan sekaligus.
Pertama, ia bisa melepaskan rindu, karena sudah sekian lama ia tidak duduk
berdekatan dengan Sania. Kedua, ia akan mendapatkan solusi pemecahan soal yang
sulit menurutnya dari Sania.
Tak mau meyia-nyiakan kesempatan langka. Sesekali Arfan
mencuri pandangan ke wajah manis Sania dan tak jarang pula Sania memergoki ulah
Arfan. Tak jarang pula pipi Arfan memerah menahan malu. Sania hanya tersimpul
kecil melihat Arfan yang salah tingkah.
“Sania.” Panggil Arfan
sedikit gugup.
“Iya.”
“Aku tau kamu milik
Bayu. Tapi ketahuilah sebenarnya aku mencintaimu.”
“Haha . . .
lelucon yang lucu.”
“Lelucon? Tidak Sania,
ini bukan lelucon. Aku bersungguh-sungguh.”
“Kamu kan dulu sering bergurau padaku dengan
mengucap kata-kata itu.”
“Itu dulu Sania.
Sekarang aku tulus.”
Sejenak keduanya saling
menatap. Entah apa yang masing-masing mereka temukan dalam bola mata yang
saling berpandangan itu.
“Aku akan siap untukmu
kapan saja jika kamu membutuhkan aku suatu hari nanti.” Kata-kata yang
benar-benar tulus terucap dari bibir Arfan yang dulunya dicap plin-plan oleh
Sania.
*** ***
***
Suasana gerimis di sore hari membuat udara semakin
dingin. Membuat sebagian orang memilih untuk melelapkan jiwa dalam mimpi.
Namun, tak berlaku untuk keluarga Sania. Tampak Ayah, Ibu dan Sania sedang
terduduk di ruang tengah dengan Sania yang tampak tegang. Bak suasana sidang di
pengadilan dengan Sania sebagai terdakwa.
Sania dijatuhi vonis dari kedua orang tuanya. Semua itu
dilatarbelakangi oleh Sania yang akan menginjak perguruan tinggi. Berhubung
Sania adalah anak semata wayang, maka sudah pasti kedua orang tuanya
menginginkan anaknya berhasil di kemudian hari nanti.
“Ujian nasional telah
usai kamu jalani dan tentunya setelah kelulusan kamu harus kuliah. Kamu sendiri
pernah berjanji pada ayah, kalau kamu akan berusaha meraih cita-cita sebelum
kamu menikah. Dan setelah ini adalah saatnya kamu buktikan ucapanmu itu.”
“Iya Yah, Sania akan
berusaha.”
“Ayah tidak akan
menguliahkanmu di kota
ini.”
“Apa Yah?” Mata Sania
melolot memandang sang ayah yang sangat tegas memberikan keputusan.
“Iya. Ayah tau kamu
sedang berpacaran dengan Bayu. Dan ayah yakin, jika kamu kuliah di sini dan
bersama Bayu, maka kamu tidak akan pernah bisa fokus pada pendidikan.”
“Bisa Yah. Buktinya
sekarang Sania masih berprestasi.”
“Haha Sania . . . Sania
. . . ayah ini pernah muda. Jadi kamu
harus nurut dengan orang yang lebih berpengalaman.”
“Lalu Sania harus
kuliah dimana?”
“Ayah punya rekan yang
kebetulan dia adalah dosen di Jepang. Ayah akan titipkan kamu padanya.”
“Apa? Jepang?”
“Iya. Itu sudah menjadi
putusan ayah. Bahkan semua persiapan keberangkatan telah ayah urus. Kamu
tinggal menunggu waktu saja.”
“Tapi Yah. Sania ingin
kuliah di kota ini, toh PTN di kota ini juga berkualitas.”
“Bukan masalah
berkualitas dan tidak. Tapi masalah fokus dan fokus.” Ayah Sania bergegas pergi
karena keputusannya tak mau digugat lagi.
Ayah Sania begitu tegas
mengambil keputusan. Membuat Sania sesekali menitikan air mata. Sania terjatuh
dalam pelukan sang ibu yang dari tadi hanya terdiam. Sania bingung, harus
berkata apa ia pada Bayu.
“Bu, bantu Sania. Sania
ingin di sini.”
“Maaf Sayang, ibu gak
bisa. Ini demi kebaikanmu juga. Kalau kamu dan Bayu itu berjodoh, kamu pasti
akan bertemu lagi sama Bayu. Yakinlah.” Sang ibu menenangkan.
Tut . . . tut . . . tut . . . hanya suara itu yang
didengar Sania ketika ia menelpon Bayu. Sekali lagi Sania menelpon untuk
kesekian kalinya. Namun, suara tut yang lagi-lagi ia dengar. Sania
merebahkan badannya di kasur, membanting HP-nya ke kasur lalu membiarkan air
matanya mengalir mengikuti lekuk wajahnya.
Getar HP yang sedikit menimbulkan bunyi di atas kasur,
membuat Sania terduduk sejenak berharap Bayu menghubungi balik. Ternyata yang
diharapkan tidak kunjung berpihak. Bukan Bayu yang menghubungi Sania tapi malah
Arfan.
“Halo.” Sani menjawab
telepon Arfan dengan suara yang lemah.
“Halo Sania. Kamu
kenapa? Nampaknya kamu sedih?” Arfan yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba
melontarkan pertanyaan itu ketika mendengar suara Sania yang berbeda dari
biasanya.
“Aku . . . aku. . .
tidak apa-apa.”
“Kamu jangan bohong.
Kumohon cerilah padaku.”
“Aku akan pergi ke
Jepang untuk kuliah di sana .
Sedangkan aku sama sekali belum memberi kabar pada Bayu.” Jelas Sania dengan
suara yang semakin lemah.
“Apa?”
Arfan adalah orang
pertama yang terkejut mendengar berita
itu. Arfan yang masih belum puas selama 6 tahun satu sekolah dengan Sania tidak
bisa menerima kenyataan yang akan terjadi, apalagi Bayu yang sama sekali tidak
pernah satu sekolah dengan Sania.
“Aku akan membantumu
Sania.”
“Aku bingung Fan.”
“Aku akan bicara pada
kedua orang tuamu.”
“Percuma Fan, kamu gak
akan pernah bisa. Aku sebagai anaknya saja tidak bisa, apalagi kamu. Ayahku
orang yang teguh pendirian.”
Tut . . . tut . . . tut . . . tiba-tiba obrolan
Sania dengan Arfan terputus. Entah pihak mana yang sengaja memutuskan
sambungan. Tak lama setelah itu, Bayu menelpon balik Sania setelah tadi telepon
Sania sempat tak terjawab oleh Bayu.
“Halo. Ada apa Sayang kamu menelpon aku?”
“Aku. . . aku mau bilang kalau kita akan berpisah
jauh.” Jawab Sania dengan air mata tak henti-hentinya menetes.
“Maksud kamu?”
“Aku akan kuliah di
Jepang.”
“Apa? Kamu tidak lagi
bercanda kan ?” “Enggak.”
“Ini gak boleh terjadi.
Kamu tega ninggalin aku sendiri.”
“Tidak. Tapi ini sudah
menjadi keputusan ayahku. Dan aku tidak bisa menggugatnya, kamu tau itu kan ?”
“Tapi . . .” “Aku harap kamu setia menungguku.”
“Aku akan setia
menunggumu Sayang.” Jawab Bayu meyakinkan.
*** ***
***
Di tengah gelapnya malam, masih ada aktivitas yang
dikerjakan oleh penduduk Jepang. Entah apa saja itu. Sania tak mau tau, yang
terpenting baginya hanya menuntut ilmu lalu meraih cita-citanya dan pulang
bertemu Bayu kekasihnya.
Dalam heningnya suasana apartemen, Sania melamun dengan
menggenggam secangkir coklat hangat. Sania masih ingat ketika Bayu melepas
kepergian Sania saat di bandara. Di sisi yang lain, Sania juga melihat Arfan
yang dari kejauhan menyaksikan perpisahan memilukan itu. Arfan sengaja tidak
mendekat, karena ada Bayu di samping Sania.
Sebenarnya Sania ingin bersalaman dengan Arfan sebelum
perpisahannya. Namun, keduanya sama-sama menyadari itu tidak mungkin. Keduanya
sama-sama menjaga perasaan Bayu. Detik terakhir sebelum terbang, ketika semua
orang tua Sania dan Bayu pulang, tatapan penuh arti antara Sania dan Arfan
terjadi, walaupun itu terjadi dari jarak yang jauh.
*** *** *** ***
Walaupun teknologi semakin canggih, dan memudahkan
berkomunikasi. Namun, komunikasi antara Sania dengan Bayu bisa dikatakan
jarang. Sania yang merasakan hal itu, hanya bisa berpositif thinking .
Tapi, tak selamanya positif thinking itu bertahan lama.
Rasa rindu mendengar suara Bayu, benar-benar mengusik
Sania. Di sela-sela lapangnya waktu yang
ia miliki, Sania memutuskan untuk menelpon Bayu. Untuk sekedar melepas rindu.
Bunyi tut cukup lama Sania dengar. Sania sempat
berpikir apakah nomor yang ia tuju salah. Tak lama pikiran itu bersemayam di
otak Sania, tiba-tiba dari sebrang terdengar seseorang menjawab teleponnya.
“Halo.”
“Bayu. Sayang aku
kangen, kamu kemana aja kok gak kabari aku?”
“Aku . . .”
“Kamu lupa ya sama aku?
Sayang, aku tahun depan sudah pulang kok, tunggu aku di rumah ya. Aku
juga kangen banget sama kamu.”
“Mas, telpon dari
siapa?” (Suara yang samar-samar terdengar oleh Sania dari sebrang)
“Bayu, itu siapa? Kok
manggilnya “Mas”? Kamu kan
gak punya adek?” Tanya Sania yang dari tadi tidak ada ujungnya.
“Itu . . .”
“Siapa? Kamu kok gugup
sih?”
“Dia istriku.” “Apa?”
“Kamu bercanda?”
“Tidak.” Tut . . . tut . . . tut . . . Bayu memutus
sambungannya.
Betapa remuknya hati
Sania mendengar pujaan hatinya telah menjadi milik orang lain. Ditambah lagi
berita itu berasal dari kekasih hatinya sendiri, yang dulu pernah berjanji akan
setia menunggu Sania menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Seolah Dunia
gelap seketika.
*** ***
***
Sania terbangun begitu tirai jendela dibuka oleh sang
ibu. Sinar mentari di pagi hari memecah mimpi buruk dalam sakitnya. Sania sakit
setelah pulang dari luar negeri seminggu yang lalu. Dalam tidur lelapnya di
kamar kesayangan, Sania masih sering bermimpi persis disaat ia pertama kali
mendengar kabar Bayu menikah dengan orang lain. Mungkin semua ini adalah
pertanda bahwa Sania belum ikhlas melepas Bayu.
“Sania, bagaimana keadaanmu?”
“Sudah mendingan Bu.”
“Cepat kamu mandi dan
bergegas ke ruang tamu.”
“Memangnya ada apa Bu?”
“Ada seseorang yang menunggumu.”
“Di pagi hari begini?”
Sania sempat bingung.
Dengan pakaian yang sederhana, tanpa make up dan
rambut yang sedikit masih basah, Sania menemui tamu yang dimaksud ibunya. Tanpa
diharapkan sebelumnya, ternyata yang datang pagi-pagi sekali adalah Arfan.
“Setelah aku mendengar
kabar kepulanganmu, aku memutuskan untuk segera ke rumahmu, karena aku sangat
merindukanmu. Dan aku tau bagaimana perasaanmu sekarang ini ketika mengetahui
status Bayu. Maka dari itu ijinkan aku mengobati luka di hatimu itu.”
Barulah Sania menyadari
bahwa ucapan Arfan kali itu bukanlah main-main. Dengan hati yang yakin Sania
menganggukan kepala pertanda setuju memberikan kesempatan untuk Arfan menjadi
pendamping Sania pengganti Bayu untuk yang terakhir kalinya.
ABOUTME
Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..


0 komentar:
Posting Komentar