HIBURAN

Selamat datang di Blog Hiburan, tersedia beberapa cerpen bertema dunia remaja yang akan memberikan sedikit refresing. Happy Reading.
Join us on



Ternyata Bukan Kamu, tapi Dia
            “Cinta . . . ini tak kan pernah bisa terhapuskan, selama kau masih menemani hatiku, masih kurasakan setia dihatiku dan tak kan ternoda untuk selamanya. Kan ku jaga . . . rasa cinta . . . yang kini telah hadir di hidupku . . . selamanya tak kan sirna meskipun waktu kan memanggilku.”
            Suara merdu menggema di beranda rumah Sania ditemani purnama yang tersenyum manis menebar cahayanya disamping bintang-bintang yang bertebaran di langit. Lagu yang didendangkannya sangatlah cocok untuk dirinya yang telah menjalin hubungan dengan Bayu (pacarnya), selama 2 tahun ini.
            Keduanya adalah sepasang insan yang sama-sama memiliki kesetiaan. Namun, sedikit memiliki perbedaan diantara keduannya. Di sekolah, Sania menjadi primadona yang sering mengantongi berbagai prestasi. Sedang Si Bayu hanya seorang siswa yang pasif dengan nilai yang cukup. Sungguh cinta yang menyatukan mereka hingga tak memandang semua perbedaan tersebut.
            Pukul 6 pagi motor besar yang keren tak terkecuali pemiliknya yang gagah berhenti di depan rumah Sania. Ya. Orang itu adalah Bayu. Tidak dipungkiri lagi jika Sania memiliki pacar sekeren Bayu karena Sania sendiri juga cantik lagi manis. Seperti biasa, semenjak mereka berpacaran, Sania mendapat tumpangan gratis ke sekolah setiap hari.
            Banyak pasang mata yang selalu menyorotkan pandangan ke arah Sania selagi ia turun dari motor Bayu. Banyak yang menilai pasangan ini adalah pasangan yang sangat romantis, akur, dan saling menjaga kesetiaan walaupun berbeda sekolah. Banyak pula yang iri terhadap Sania.
“Sampai jumpa Sayang. Jangan nakal ya di sekolah.” Kata Bayu sambil mencubit hidung Sania yang lumayan mancung.
“Iya Sayang.”
Sania masih berdiri di tempatnya, ketika Bayu memacu motor besarnya hingga menghilang di pertigaan dekat sekolah Sania.

            Sebenarnya dibalik keromantisan yang selama ini terlihat di depan umum, terkadang ada juga masalah yang dihadapi oleh keduanya. Tak ada hubungan yang selalu berjalan mulus dan terus bahagia. Pasti ada saja gelombang yang selalu menguji kekuatan cinta setiap pasangan, sebagai bukti seberapa besar cinta dan pengorbanan yang telah diberikan.
            Sudah 2 minggu terakhir, masalalu Sania datang kembali. Mantan Sania yang dulu pernah menyakiti Sania kini hadir kembali. Memohon pada Sania membuka kesempatan kedua. Meminta pada Sania untuk mengulang kisah yang dulu pernah ternodai. Sania yang terlanjur jatuh hati pada Bayu, tak mungkin lagi memenuhi semua permintaan Arfan (mantannya). Sekalipun Arfan bersujud pada Sania.
            Cinta Arfan pada Sania datang terlambat, yang kini membuat Arfan harus menelan api cemburu ketika mengetahui Sania menjadi milik orang lain. Arfan menyesal mengapa dulu ia menyia-nyiakan Sania. Mencampakan Sania lalu menyakiti hati Sania yang masih tulus. Kini ketika Sania pergi dari hidupnya barulah ia mengetahui  makna kehilangan.
            Dari depan kelas XII IPA 3 Arfan memandang jauh ke arah gerbang. Menatap setiap gerak gemulai dari gadis manis pujaannya. Ya. Gadis itu tak lain adalah Sania. Gadis yang baru turun dari motor keren bersama pacar yang selalu setia disampingnya. Sania sama sekali tidak menyadari bahwa Arfan sedang memandanginya.
            Entah seberapa besar api dalam hati Arfan menyala, hingga membuat telinganya memerah di pagi hari yang sejuk ini.
Woi Bro, ngliatin siapa?” Gertak Ferdi sahabat Arfan.
“Gak apa-apa.”
“Telingamu merah banget, terus kenapa tanganmu menggenggam?” Ledek Ferdi sekali lagi.
“Berisik loe.”
Saking marahnya, Arfan tak mau ada seorang pun yang mencampuri urusan pribadinya sekalipun itu sahabatnya sendiri.
            Suara lebah yang berdengung tampak jelas berasal dari kamar Sania. Itu menandakan bahwa Sania sedang serius belajar, karena berhubung Ujian Nasional sudah di depan mata. Tak ada seorang pun yang berani mengganggu Sania sekalipun itu orang tua Sania, kecuali ada hal yang benar-benar penting.
            Dari gerbang rumah Sania yang tengah terbuka lebar, tanpa disangka seorang dengan motor matic-nya langsung berbelok masuk ke halaman. Membuat ibu Sania yang sedang membaca majalah melongo sebentar.
“Selamat Sore Tante.” Sapa pemuda yang perlahan berjalan menghampiri sambil menjinjing helm.
“Sore. Mencari siapa?”
“Sania ada Tante?”
Ada. Tapi dia lagi belajar.”
“Kebetulan Tante. Saya mau belajar sama Sania.”
“Oh begitu ya. Sebentar saya panggilkan dulu.”
Sambil melepaskan lelahnya, Arfan (pemuda yang datang tadi) menyandarkan tubuhnya di kursi kayu di beranda rumah Sania. Tak sampai menunggu lama, Sania keluar dengan tiba-tiba, mengagetkan Arfan.
“Arfan.”  “Sania.”
Ada apa kamu kemari?”
“Aku mau belajar sama kamu boleh?”      “Oh tentu.”
“Ok. Bisa dimulai sekarang.”
Emmm aku buatkan minum dulu ya.”
“Oh. Gak usa. Mending kita mulai dulu belajarnya.”    “Baiklah.”
            Damai rasa hati Arfan bisa memandang Sania sedekat itu. Rencana untuk belajar bersama Sania telah dirancang Arfan jauh-jauh hari. Arfan mendapat  dua keuntungan sekaligus. Pertama, ia bisa melepaskan rindu, karena sudah sekian lama ia tidak duduk berdekatan dengan Sania. Kedua, ia akan mendapatkan solusi pemecahan soal yang sulit menurutnya dari Sania.
            Tak mau meyia-nyiakan kesempatan langka. Sesekali Arfan mencuri pandangan ke wajah manis Sania dan tak jarang pula Sania memergoki ulah Arfan. Tak jarang pula pipi Arfan memerah menahan malu. Sania hanya tersimpul kecil melihat Arfan yang salah tingkah.
“Sania.” Panggil Arfan sedikit gugup.
“Iya.”
“Aku tau kamu milik Bayu. Tapi ketahuilah sebenarnya aku mencintaimu.”
Haha . . . lelucon yang lucu.”
“Lelucon? Tidak Sania, ini bukan lelucon. Aku bersungguh-sungguh.”
“Kamu kan dulu sering bergurau padaku dengan mengucap kata-kata itu.”
“Itu dulu Sania. Sekarang aku tulus.”
Sejenak keduanya saling menatap. Entah apa yang masing-masing mereka temukan dalam bola mata yang saling berpandangan itu.
“Aku akan siap untukmu kapan saja jika kamu membutuhkan aku suatu hari nanti.” Kata-kata yang benar-benar tulus terucap dari bibir Arfan yang dulunya dicap plin-plan oleh Sania.
                                                            *** *** ***
            Suasana gerimis di sore hari membuat udara semakin dingin. Membuat sebagian orang memilih untuk melelapkan jiwa dalam mimpi. Namun, tak berlaku untuk keluarga Sania. Tampak Ayah, Ibu dan Sania sedang terduduk di ruang tengah dengan Sania yang tampak tegang. Bak suasana sidang di pengadilan dengan Sania sebagai terdakwa.
            Sania dijatuhi vonis dari kedua orang tuanya. Semua itu dilatarbelakangi oleh Sania yang akan menginjak perguruan tinggi. Berhubung Sania adalah anak semata wayang, maka sudah pasti kedua orang tuanya menginginkan anaknya berhasil di kemudian hari nanti.
“Ujian nasional telah usai kamu jalani dan tentunya setelah kelulusan kamu harus kuliah. Kamu sendiri pernah berjanji pada ayah, kalau kamu akan berusaha meraih cita-cita sebelum kamu menikah. Dan setelah ini adalah saatnya kamu buktikan ucapanmu itu.”
“Iya Yah, Sania akan berusaha.”
“Ayah tidak akan menguliahkanmu di kota ini.”
“Apa Yah?” Mata Sania melolot memandang sang ayah yang sangat tegas memberikan keputusan.
“Iya. Ayah tau kamu sedang berpacaran dengan Bayu. Dan ayah yakin, jika kamu kuliah di sini dan bersama Bayu, maka kamu tidak akan pernah bisa fokus pada pendidikan.”
“Bisa Yah. Buktinya sekarang Sania masih berprestasi.”
“Haha Sania . . . Sania . . .  ayah ini pernah muda. Jadi kamu harus nurut dengan orang yang lebih berpengalaman.”
“Lalu Sania harus kuliah dimana?”
“Ayah punya rekan yang kebetulan dia adalah dosen di Jepang. Ayah akan titipkan kamu padanya.”
“Apa? Jepang?”
“Iya. Itu sudah menjadi putusan ayah. Bahkan semua persiapan keberangkatan telah ayah urus. Kamu tinggal menunggu waktu saja.”
“Tapi Yah. Sania ingin kuliah di kota ini, toh PTN di kota ini juga berkualitas.”
“Bukan masalah berkualitas dan tidak. Tapi masalah fokus dan fokus.” Ayah Sania bergegas pergi karena keputusannya tak mau digugat lagi.
Ayah Sania begitu tegas mengambil keputusan. Membuat Sania sesekali menitikan air mata. Sania terjatuh dalam pelukan sang ibu yang dari tadi hanya terdiam. Sania bingung, harus berkata apa ia pada Bayu.
“Bu, bantu Sania. Sania ingin di sini.”
“Maaf Sayang, ibu gak bisa. Ini demi kebaikanmu juga. Kalau kamu dan Bayu itu berjodoh, kamu pasti akan bertemu lagi sama Bayu. Yakinlah.” Sang ibu menenangkan.
            Tut . . . tut . . . tut . . . hanya suara itu yang didengar Sania ketika ia menelpon Bayu. Sekali lagi Sania menelpon untuk kesekian kalinya. Namun, suara tut yang lagi-lagi ia dengar. Sania merebahkan badannya di kasur, membanting HP-nya ke kasur lalu membiarkan air matanya mengalir mengikuti lekuk wajahnya.
            Getar HP yang sedikit menimbulkan bunyi di atas kasur, membuat Sania terduduk sejenak berharap Bayu menghubungi balik. Ternyata yang diharapkan tidak kunjung berpihak. Bukan Bayu yang menghubungi Sania tapi malah Arfan.
“Halo.” Sani menjawab telepon Arfan dengan suara yang lemah.
“Halo Sania. Kamu kenapa? Nampaknya kamu sedih?” Arfan yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu ketika mendengar suara Sania yang berbeda dari biasanya.
“Aku . . . aku. . . tidak apa-apa.”
“Kamu jangan bohong. Kumohon cerilah padaku.”
“Aku akan pergi ke Jepang untuk kuliah di sana. Sedangkan aku sama sekali belum memberi kabar pada Bayu.” Jelas Sania dengan suara yang semakin lemah.
“Apa?”
Arfan adalah orang pertama yang  terkejut mendengar berita itu. Arfan yang masih belum puas selama 6 tahun satu sekolah dengan Sania tidak bisa menerima kenyataan yang akan terjadi, apalagi Bayu yang sama sekali tidak pernah satu sekolah dengan Sania.
“Aku akan membantumu Sania.”
“Aku bingung Fan.”
“Aku akan bicara pada kedua orang tuamu.”
“Percuma Fan, kamu gak akan pernah bisa. Aku sebagai anaknya saja tidak bisa, apalagi kamu. Ayahku orang yang teguh pendirian.”
            Tut . . . tut . . . tut . . . tiba-tiba obrolan Sania dengan Arfan terputus. Entah pihak mana yang sengaja memutuskan sambungan. Tak lama setelah itu, Bayu menelpon balik Sania setelah tadi telepon Sania sempat tak terjawab oleh Bayu.
“Halo. Ada apa Sayang kamu menelpon aku?”
“Aku.  . . aku mau bilang kalau kita akan berpisah jauh.” Jawab Sania dengan air mata tak henti-hentinya menetes.
“Maksud kamu?”
“Aku akan kuliah di Jepang.”
“Apa? Kamu tidak lagi bercanda kan?”    “Enggak.”
“Ini gak boleh terjadi. Kamu tega ninggalin aku sendiri.”
“Tidak. Tapi ini sudah menjadi keputusan ayahku. Dan aku tidak bisa menggugatnya, kamu tau itu kan?”
“Tapi . . .”       “Aku harap kamu setia menungguku.”
“Aku akan setia menunggumu Sayang.” Jawab Bayu meyakinkan.
                                                            *** *** ***
            Di tengah gelapnya malam, masih ada aktivitas yang dikerjakan oleh penduduk Jepang. Entah apa saja itu. Sania tak mau tau, yang terpenting baginya hanya menuntut ilmu lalu meraih cita-citanya dan pulang bertemu Bayu kekasihnya.
            Dalam heningnya suasana apartemen, Sania melamun dengan menggenggam secangkir coklat hangat. Sania masih ingat ketika Bayu melepas kepergian Sania saat di bandara. Di sisi yang lain, Sania juga melihat Arfan yang dari kejauhan menyaksikan perpisahan memilukan itu. Arfan sengaja tidak mendekat, karena ada Bayu di samping Sania.
            Sebenarnya Sania ingin bersalaman dengan Arfan sebelum perpisahannya. Namun, keduanya sama-sama menyadari itu tidak mungkin. Keduanya sama-sama menjaga perasaan Bayu. Detik terakhir sebelum terbang, ketika semua orang tua Sania dan Bayu pulang, tatapan penuh arti antara Sania dan Arfan terjadi, walaupun itu terjadi dari jarak yang jauh.
                                                *** *** *** ***
            Walaupun teknologi semakin canggih, dan memudahkan berkomunikasi. Namun, komunikasi antara Sania dengan Bayu bisa dikatakan jarang. Sania yang merasakan hal itu, hanya bisa berpositif thinking . Tapi, tak selamanya positif thinking itu bertahan lama.
            Rasa rindu mendengar suara Bayu, benar-benar mengusik Sania. Di sela-sela lapangnya  waktu yang ia miliki, Sania memutuskan untuk menelpon Bayu. Untuk sekedar melepas rindu.
            Bunyi tut cukup lama Sania dengar. Sania sempat berpikir apakah nomor yang ia tuju salah. Tak lama pikiran itu bersemayam di otak Sania, tiba-tiba dari sebrang terdengar seseorang menjawab teleponnya.
“Halo.”
“Bayu. Sayang aku kangen, kamu kemana aja kok gak kabari aku?”
“Aku . . .”
“Kamu lupa ya sama aku? Sayang, aku tahun depan sudah pulang kok, tunggu aku di rumah ya. Aku juga kangen banget sama kamu.”
“Mas, telpon dari siapa?” (Suara yang samar-samar terdengar oleh Sania dari sebrang)
“Bayu, itu siapa? Kok manggilnya “Mas”? Kamu kan gak punya adek?” Tanya Sania yang dari tadi tidak ada ujungnya.
“Itu . . .”   
“Siapa? Kamu kok gugup sih?”
“Dia istriku.”  “Apa?”
“Kamu bercanda?”
“Tidak.” Tut  . . . tut . . . tut . . . Bayu memutus sambungannya.
Betapa remuknya hati Sania mendengar pujaan hatinya telah menjadi milik orang lain. Ditambah lagi berita itu berasal dari kekasih hatinya sendiri, yang dulu pernah berjanji akan setia menunggu Sania menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Seolah Dunia gelap seketika.
                                                            *** *** ***
            Sania terbangun begitu tirai jendela dibuka oleh sang ibu. Sinar mentari di pagi hari memecah mimpi buruk dalam sakitnya. Sania sakit setelah pulang dari luar negeri seminggu yang lalu. Dalam tidur lelapnya di kamar kesayangan, Sania masih sering bermimpi persis disaat ia pertama kali mendengar kabar Bayu menikah dengan orang lain. Mungkin semua ini adalah pertanda bahwa Sania belum ikhlas melepas Bayu.
“Sania, bagaimana keadaanmu?”
“Sudah mendingan Bu.”
“Cepat kamu mandi dan bergegas ke ruang tamu.”
“Memangnya ada apa Bu?”
Ada seseorang yang menunggumu.”
“Di pagi hari begini?” Sania sempat bingung.
            Dengan pakaian yang sederhana, tanpa make up dan rambut yang sedikit masih basah, Sania menemui tamu yang dimaksud ibunya. Tanpa diharapkan sebelumnya, ternyata yang datang pagi-pagi sekali adalah Arfan.
“Setelah aku mendengar kabar kepulanganmu, aku memutuskan untuk segera ke rumahmu, karena aku sangat merindukanmu. Dan aku tau bagaimana perasaanmu sekarang ini ketika mengetahui status Bayu. Maka dari itu ijinkan aku mengobati luka di hatimu itu.”
Barulah Sania menyadari bahwa ucapan Arfan kali itu bukanlah main-main. Dengan hati yang yakin Sania menganggukan kepala pertanda setuju memberikan kesempatan untuk Arfan menjadi pendamping Sania pengganti Bayu untuk yang terakhir kalinya.





Share this:

ABOUTME

Hi all. This is deepak from Bthemez. We're providing content for Bold site and we’ve been in internet, social media and affiliate for too long time and its my profession. We are web designer & developer living India! What can I say, we are the best..

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar